Thursday, 30 April 2015

Pengertian Tentang Tasawuf


Source Image : mahmudjonsen.blogspot.com
Secara etimologi ada beberapa pendapat tentang asal kata tasawuf. Diantaranya pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata  Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Ada juga yang berpendapat bahwa sufi berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Pendapat lain  menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.  Ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata ahl al-suffah, yaitu orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Medinah, kehilangan harta benda dan dalam keadaan miskin, mereka tinggal di mesjid dan tidur di atas batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana ini disebut suffah. Meskipun miskin,  ahl suffah  berhati mulia, tidak mementingkan keduniaan, itu merupakan sifat-sifat kaum sufi. Ada yang berpendapat kata tasawuf berasal dari kata (صف) shaf  yang berarti baris. Maksudnya adalah barisan pertama dalam shalat di masjid. Shaf yang pertama itu ditempati orang yang terlebih dahulu dating ke masjid dan banyak membaca al Qur’an serta berdzikir sebelum waktu sholat tiba.[1]

Secara terminologi, terdapat banyak pendeifinisian tentang tasawuf, diantaranya   menyatakan bahwa tasawuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi.[2] Definisi lain menyebutkan  bahwa tasawuf mencakup tiga aspek, yaitu: Kha’, maksudnya  takhalli, berarti mengosongkan diri dari perangai yang tercela, Ha’, maksudnya  tahalli, yang berarti menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan  Jim, maksudnya  tajalli, yang berarti mengalami kenyataan ketuhanaan.[3] Definisi lain  mengkategorikan pengertian tasawuf kepada tiga hal, yaitu al-bidâyah, al-mujâhadah, al-mudzâqah.[4] Definisi lain menyebutkan sebagai membersihkan hati dari sifat-sifat yang menyamai binatang, menekan sifat basyariyah, menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, menepati janji kepada Allah dan mengikuti syari’at Rasulullah.[5]

Disamping itu ada definisi yang menyatakan tasawuf adalah   kesucian hati dari pencemaran  ketidakselarasan. Maksudnya bahwa seorang sufi harus menjaga hatinya dari  ketidakselarasan dengan Tuhan, karena cinta adalah keselarasan dan pencinta hanya punya satu kewajiban di dunia, yaitu menjaga atau melaksanakan perintah sang kekasih.[6]    Definisi selanjtunya mengatakan bahwa tasawuf adalah wasilah (medium) yang ditempuh oleh seorang mukmin melalui proses upaya dalam rangka menghakikatkan syariat lewat thoriqat untuk mencapai makrifat. [7]

Secara sederhana dapat dikemukakan, bahwa tasawuf merupkan aspek esoteric atau aspek batin yang harus dibedakan dari aspek eksoterik atau aspek lahir dalam Islam.[8]  Tasawuf atau sufisme adalah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisesme dalam islam, adapun tujuan tasawuf ialah memperoleh hubungan langsung dan dekat dengan tuhan, sehingga dirasakan benar bahwa seseorang sedang berada di hadiratnya, yang intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan tuhan dengan mangasingkan diri dan berkontemplasi.[9]

Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik sebuah benang merah tentang  pengertian tasawuf bahwa ia adalah sarana untuk mengontrol dan  mengatur hati seorang mukmin sehingga menjadi sosok yang terbaik secara lahir maupun batin. Kondisi terbaik itu kemudian menjadikan dirinya semakin dekat dan mulya disisi Allah dan makhlukNya.



[1] ) Harun Nasution, Falsafat Islam dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973),  h.56-61.
[2] )Abi al Qasim Abd. Karim, Al Risalah al-Qusyairiyyah  (tt.:Dar al Khair, tt), hal.389
[3]) Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeven, 2005), h.139
[4] ) Ibrahim Basuni, Nasy`ah al-Tasawuf al-Islâm,( Mesir: Dâr Ma’ârif, tth), h.17 
[5] ) Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, h.139
[6] ) Ali Ibn Usman al-Hujwiri, Kasyful Mahjub , Alih  Bahasa: Suwardjo Muthori, Abdul Hadi WM,( Bandung: Mizan, 1994), h.47
[7][7] ) Jamaluddin Kafie, Tasawuf Kontemporer (Jakarta:Mutiara al Amien Prenduan,2003), hal. 3
[8]) Oman fathurrahman, Tanbih al-Masyi; menyoal wahdatul wujud kasus Abdurrauf  singkel di Aceh Abad 17 (Jakarta : Mizan, 1999), h. 20
[9] ) Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai Aspek, Jilid II, (Jakarta; UI Press, 2002) h. 68

About the Author

Sekilastau

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

Post a Comment

Powered by Blogger.

 
Sekilastau © 2015 - Designed by Templateism.com | Distributed By Blogger Templates