Thursday, 30 April 2015

Maskawin disebut juga mahar, sadaq, nihlah dan faridah. Menurut istilah syara’, maskawin artinya sesuatu yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada calon isterinya sebagai tukaran atau jaminan bagi sesuatu yang akan diterima darinya.
Maskawin adalah hak isteri. Banyak sedikitnya maskawin tidak dibatasi oleh syari’at islam, melainkan atas kemampuan suami dan keridlaan isteri. Meskipun demikian seorang suami hendaklah benar-benar mampu untuk membayar maskawin yang diminta isteri, karena maskawin yang telah ditetapkan tersebut,  jumlahnya menjadi hutang bagi suami, dan wajib dibayar sebagaimana hutang kepada orang lain.

Firman Alloh SWT :

وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) dengan penuh kelahapan lagi baik akibatnya”. (QS. An Nisa: 4).


Memahami Tentang Maskawin


Source Image : mahmudjonsen.blogspot.com
Secara etimologi ada beberapa pendapat tentang asal kata tasawuf. Diantaranya pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata  Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Ada juga yang berpendapat bahwa sufi berasal dari kata saf, yakni barisan dalam sholat. Pendapat lain  menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.  Ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata ahl al-suffah, yaitu orang-orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekkah ke Medinah, kehilangan harta benda dan dalam keadaan miskin, mereka tinggal di mesjid dan tidur di atas batu dengan memakai pelana sebagai bantal. Pelana ini disebut suffah. Meskipun miskin,  ahl suffah  berhati mulia, tidak mementingkan keduniaan, itu merupakan sifat-sifat kaum sufi. Ada yang berpendapat kata tasawuf berasal dari kata (صف) shaf  yang berarti baris. Maksudnya adalah barisan pertama dalam shalat di masjid. Shaf yang pertama itu ditempati orang yang terlebih dahulu dating ke masjid dan banyak membaca al Qur’an serta berdzikir sebelum waktu sholat tiba.[1]

Secara terminologi, terdapat banyak pendeifinisian tentang tasawuf, diantaranya   menyatakan bahwa tasawuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memporoleh kebahagian yang abadi.[2] Definisi lain menyebutkan  bahwa tasawuf mencakup tiga aspek, yaitu: Kha’, maksudnya  takhalli, berarti mengosongkan diri dari perangai yang tercela, Ha’, maksudnya  tahalli, yang berarti menghiasi diri dengan akhlak terpuji, dan  Jim, maksudnya  tajalli, yang berarti mengalami kenyataan ketuhanaan.[3] Definisi lain  mengkategorikan pengertian tasawuf kepada tiga hal, yaitu al-bidâyah, al-mujâhadah, al-mudzâqah.[4] Definisi lain menyebutkan sebagai membersihkan hati dari sifat-sifat yang menyamai binatang, menekan sifat basyariyah, menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, menepati janji kepada Allah dan mengikuti syari’at Rasulullah.[5]

Disamping itu ada definisi yang menyatakan tasawuf adalah   kesucian hati dari pencemaran  ketidakselarasan. Maksudnya bahwa seorang sufi harus menjaga hatinya dari  ketidakselarasan dengan Tuhan, karena cinta adalah keselarasan dan pencinta hanya punya satu kewajiban di dunia, yaitu menjaga atau melaksanakan perintah sang kekasih.[6]    Definisi selanjtunya mengatakan bahwa tasawuf adalah wasilah (medium) yang ditempuh oleh seorang mukmin melalui proses upaya dalam rangka menghakikatkan syariat lewat thoriqat untuk mencapai makrifat. [7]

Secara sederhana dapat dikemukakan, bahwa tasawuf merupkan aspek esoteric atau aspek batin yang harus dibedakan dari aspek eksoterik atau aspek lahir dalam Islam.[8]  Tasawuf atau sufisme adalah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisesme dalam islam, adapun tujuan tasawuf ialah memperoleh hubungan langsung dan dekat dengan tuhan, sehingga dirasakan benar bahwa seseorang sedang berada di hadiratnya, yang intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan tuhan dengan mangasingkan diri dan berkontemplasi.[9]

Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik sebuah benang merah tentang  pengertian tasawuf bahwa ia adalah sarana untuk mengontrol dan  mengatur hati seorang mukmin sehingga menjadi sosok yang terbaik secara lahir maupun batin. Kondisi terbaik itu kemudian menjadikan dirinya semakin dekat dan mulya disisi Allah dan makhlukNya.



[1] ) Harun Nasution, Falsafat Islam dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973),  h.56-61.
[2] )Abi al Qasim Abd. Karim, Al Risalah al-Qusyairiyyah  (tt.:Dar al Khair, tt), hal.389
[3]) Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeven, 2005), h.139
[4] ) Ibrahim Basuni, Nasy`ah al-Tasawuf al-Islâm,( Mesir: Dâr Ma’ârif, tth), h.17 
[5] ) Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, h.139
[6] ) Ali Ibn Usman al-Hujwiri, Kasyful Mahjub , Alih  Bahasa: Suwardjo Muthori, Abdul Hadi WM,( Bandung: Mizan, 1994), h.47
[7][7] ) Jamaluddin Kafie, Tasawuf Kontemporer (Jakarta:Mutiara al Amien Prenduan,2003), hal. 3
[8]) Oman fathurrahman, Tanbih al-Masyi; menyoal wahdatul wujud kasus Abdurrauf  singkel di Aceh Abad 17 (Jakarta : Mizan, 1999), h. 20
[9] ) Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai Aspek, Jilid II, (Jakarta; UI Press, 2002) h. 68

Pengertian Tentang Tasawuf

Source Image: sdntegalbangsri01.wordpress.com
Secara etimologi kata etika sangat dekat de ngan moral. Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Adapun Moral berasal dari bahasa Latin mos yangjuga mengandung arti adat kebiasaan. Dan  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, moral berarti : ajaran baik-buruk yang diterima umum mengenai sikap, akhlak, budi pekerti.[1]Budi Pekerti berarti : tingkah laku , perangai , watak, akhlak.[2] Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antara moral dan budi pekerti erat sekali kaitannya, keduanya sama-sama memiliki arti perilaku terpuji .

Budi pekerti merupakan rangkaian dari dua kata yaitu budi dan pekerti. Budi bermakna alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Sedangkan pekerti adalah tingkah laku, perangai, akhlak, watak. Berbudi berarti mempunyai budi, bijaksana, berakal, berkelakuan baik, murah hati dan baik hati.

Berdasarkan  beberapa  pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa  budi pekerti pada dasarnya merupakan sikap dan prilaku seseorang, keluarga, maupun masyarakat yang  berkaitan dengan  norma dan etika. Oleh karena itu, berbicara tentang budi pekerti  berarti berbicara tentang  nilai-nilai perilaku manusia yang akan diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui ukuran norma agama, norma hukum, tata krama dan sopan santun, atau norma budaya/adat istiadat suatu wilayah.

Sedangkan manfaat memahami tentang budi pekerti dalam konteks pendidikan akan berdampak pada pemahaman tentang susunan pendid ikan budi pekerti dalam lingkup etika bagi pembangunan dirinya dalam ilmu pengetahuan. Disamping itu peserta didik akan memiliki landasan budi pekerti luhur bagi pola perilaku sehari -hari yang didasari hak dan kewajiban sebagai warga. Juga pada akhirnya nanti peserta didik dapat mencari dan memperoleh informasi tentang budi pekerti, mengolahnya dan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah  nyata di masyarakat, dan  dapat berkomunikasidan bekerja sama dengan orang lain untuk mengembangkan nilai moral.[3]






[1])Departemen Pendidikan Nasional,  Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta. Balai Pustaka, 1999),hal. 665
[2]I) bid,hal. 150
[3]) Cahyoto, Budi Pekerti dalam Perspektif Pendidikan.( Malang: Depdiknas- Dirjen pendidikan Dasar dan Menengah,2002), hal.13

Pengertian Budi Pekerti

Source Image : rosyarachmania.wordpress.com
Kata etika secara etimologi  berasal dari bahasa Yunani; ethos; yang berarti watak kesusilaan atau adat. Menurut Oxford dictionary etika adalah“moral principles that govern a person’s behaviour or the conducting of an activity:medical ethics also enter into the question”.  Pengertian lain menunjukkan bahwa etika adalah “the branch of knowledge that deals with moral principles: neither metaphysics nor ethics is the home of religion”[1].

Sedangkan secara epistemologi,  istilah etika adalah ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan manusia, menunjukkan tujuan dan jalan yang harus dituju, dan apa yang harus dilakukan.[2]

Konsep etika bersifat humanistis dan anthropocentris, karena didasarkan pada pemikiran manusia dan diarahkan pada perbuatan manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan yang dihasilkan oleh akal manusia.Dengan demikian etika adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.  Sehingga secara umum etika dapat dilihat sebagai sesuatu yang mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.

Etika dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenal gerak-gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenal tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.Sedangkan ketika dikaitkan dengan komponen-komponen yang ada di dalamnya, etika meliputi 4 komponen, yaitu; 1). Objek, yaitu perbuatan manusia.2). Sumber, berasal dari pikiran atau filsafat.3). Fungsi, sebagai penilai perbuatan manusia.4). Sifat, berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.                                     

Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia.  Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.



[1]) Oxford Dictionaries,2013
[2] )Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hal, 17

Pengertian Tentang Etika

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam menyelenggarakan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.Salah satu pertanda bahwa sesorang itu telah belajar adalah adanya perubahan pada tingkah laku pada diriorang itu yang mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya. Arti penting belajar bagi kehidupan manusia Belajar juga memainkan peran dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antar bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar.

Pengertian Tentang belajar


Menurut Mc. Donald, yang dikutip Oemar Hamalik motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks.

Motivasi  akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri  untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelak perasaan tidak suka itu.

Menurut Siti Sumarni, Thomas L. Good dan Jere B. Braphy mendefinisikan motivasi sebagai suatu energi penggerak dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Ini berarti perbuatan seseorang tergantung motivasi yang mendasarinya. Motivasi adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas. Masih dalam artikel Siti Sumarni, motivasi secara harafiah yaitu sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sedangkan secara psikologi, berarti usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Pengertian Tentang Motivasi

Obsesif kompulsif adalah suatu gangguan cemas yang ditandai dengan adanya suatu ide yang mendesak dan adanya dorongan yang tak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu dan dilakukan dengan berulang kali. Obsesi sendiri memilki pengertian gagasan, bayangan, dan impuls yang timbul didalam pikiran secara berulang-ulang, sangat mengganggu dan pasien merasa tidak mampu untuk menghentikannya (David A Tomb. 2000:107).


Pikiran yang muncul itu biasanya tidak dikehendaki, menimbulkan penderitaan, dan kadang menakutkan atau membahayakan (misal: dorongan untuk melompat ke depan mobil yang sedang berjalan; pikiran bahwa pasien akan menyerang pasangannya), dan seringkali menimbulkan hendaya dalam menjalankan fungsi kehidupannya. Banyak pasien kemudian mengembangkan ritual atau kompulsi (menghitung, menyentuh, membersihkan) untuk menyingkirkan peristiwa yang tidak diinginkan atau memuaskan pikiran obsesinya (Misal, Obsesi tentang kekotoran akan menimbulkan tindakan ritual cuci tangan). Kompulsi adalah obsesi yang manifestasikan, muncul 75% atau lebih pada gangguan obsesif (David A Tomb. 2000:108).

Dalam manifestasinya, setiap individu dapat berbeda-beda, sebagai contoh perasaan cemas akan kebersihan dirinya, akan terwujud dengan perilaku mencuci tangan yang berulang-ulang, perasaan cemas akan keamanan rumah tempat tinggalnya,terwujud dengan pengecekan pintu-pintu rumah secara berulang (Galih. 2009:1).

Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi. Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan. Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.

David A Tomb (2000) juga mengatakan bahwa Obsesi memilki pengertian gagasan, bayangan, dan impuls yang timbul didalam pikiran secara berulang-ulang, sangat mengganggu dan pasien merasa tidak mampu untuk menghentikannya sedangkan Kompulsi adalah obsesi yang manifestasikan, muncul 75% atau lebih pada gangguan obsesif.

Gangguan Obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.

Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.

Gangguan Obsesif Kompulsif Obsesif kompulsif adalah suatu gangguan cemas yang ditandai dengan adanya suatu ide yang mendesak dan adanya dorongan yang tak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu dan dilakukan dengan berulang kali. Terdiri  dari dua unsur yaitu obsesi yang diartikan sebagai suatu ide yang mendesak ke dalam pikiran serta kompulsi yang diartikan sebagai dorongan yang tak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Dalam manifestasinya, setiap individu dapat berbeda-beda, sebagai contoh perasaan cemas akan kebersihan dirinya, akan  terwujud deengan perilaku mencuci tangan yang berulang ulang, perasaan cemas akan keamanan rumah tempat tinggalnya,terwujud dengan pengecekan pintu-pintu rumah secara berulang (Maramis,2005).

Penyebab Obsesif Kompulsif adalah: 
  • Genetik - (Keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder). 
  • Organik – Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian - bagian tertentu otak juga merupakan satu faktor bagi OCD. Kelainan saraf seperti yang disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD. 
  • Kepribadian - Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah. 
  • Pengalaman masa lalu - Pengalaman masa lalu/lampau juga mudah mencorakkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD. 
  • Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan 
  • Konflik - Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi konflik jiwa yang berasal dari masalah hidup. Contohnya hubungan antara suami-istri, di tempat kerja, keyakinan diri. 


Pengertian dan Penyebab Obsesif kompulsif

Image Credit : laprosperidadvienedejehova.blogspot.com
Religiusitas berasal dari kata religi, religion (Inggris), religie (Belanda) religio/relegare (Latin) dan dien (Arab). Kata religion (bahasa Inggris) dan religie (bahasa Belanda) adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Latin “religio” dari akar kata “relegare”yang berarti mengikat. Menurut Cicero, relegare berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan, yakni jenis laku peribadatan yang dikerjakan berulang-ulang dan tetap. Lactancius mengartikan kata relegare sebagai mengikat menjadi satu dalam persatuan bersama. Dalam bahasa Arab, agama di kenal dengan kata al-din dan al- milah. Kata al-din sendiri mengandung berbagai arti. Ia bisa berarti al-Mulk (kerajaan),al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan),al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-adat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan pemerintahan), al-tadzallul wa al-khudu (tunduk dan patuh), al-tha’at (taat), al-islam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan).

Dari istilah agama inilah kemudian muncul apa yang dinamakan religiusitas. Glock dan Stark merumuskan religiusitas sebagai komitmen religius (yang berhubungan dengan agama atau keyakinan iman), yang dapat dilihat melalui aktivitas atau perilaku individu yang bersangkutan denganagama atau keyakinan iman yang dianut. Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam.

Menurut Glock & Stark (1968) ada 5 dimensi dari religiusitas, yaitu :


  • Dimensi iman (belief dimension), yang mencakup ekspektasi (harapan) bahwa seorang penganut agama menganut dan memahami suatu pandangan teologis yang menyebabkan dia mengakui dan menerima kebenaran agama tertentu. 
  • Dimensi praktis keagamaan (religious practice), yang mencakup ibadat (rituals) dan devosi, yang menjadi kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap penganut agama. 
  • Dimensi pengalaman keagamaan (the experience dimension or religious experience), yang mencakup kenyataan bahwa semua agama punya harapan yang standard (umum) namun setiap pribadi penganutnya bisa memperoleh suatu pengalaman langsung dan pribadi (subyektif) dalam berkomunikasi dengan realitas supranatural itu. 
  • Dimensi pengetahuan (the knowledge dimension), yang merujuk pada ekspektasi bahwa penganut agama tertentu hendaknya memiliki pengatahuan minimum mengenai hal-hal pokok dalam agama: iman, ritus, Kitab Suci dan tradisi. Dimensi iman dan pengetahuan memiliki hubungan timbal balik, yang mempengaruhi sikap hidup dalam penghayatan agamanya setiap hari. 
  • Dimensi konsekuensi sosial (the consequences dimension). Dimensi ini mengidentifikasi efek dari keempat dimensi diatas dalam praktek, pengalaman serta kehidupan sehari-hari.


Pengertian Tentang Religiusitas

Seorang suami yang menjatuhkan Talak kepada Isteri, maka isteri tidak berkewajiban untuk mengembalikan mahar tersebut. Sedangkan jika sang Isteri yang menjatuhkan Talak kepada sang Suami (Khulu’), tetapi, tetap yang menceraikan adalah suami dengan meminta beberapa imbalan seperti meminta sang Isteri untuk mengembalikan pemberian mahar sang Suami tersebut kepadanya, maka Isteri wajib mengembalikan mahar tersebut kepada sang Suami.


Hal itu berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya isetri Tsabit bin Qais datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak mencelanya (Tsabit) dalam hal akhlaknya maupun agamanya, akan tetapi aku benci kekufuran (karena tidak mampu menunaikan kewajibannya) dalam Islam” Maka Rasulullah SAW berkata padanya: “Apakah kamu mengembalikan pada suamimu kebunnya? Wanita itu menjawab: iya. Maka Rasulullah SAW berkata kepada Tsabit: “terimalah kebun tersebut dan ceraikanlah ia 1 kali talak” (HR Bukhori, Nasa’iy dan Ibnu Majah. Nailul Authar 6/246).




Hukum Seorang Suami Meminta Maskawin Setelah Perceraian

Thursday, 2 April 2015

Shalat Hajat
Source Image : rumaysho.com
Shalat Hajat adalah shalat sunnah yang dilakukan seorang muslim karena mempunyai hajat atau keinginan agar keinginanya dikabulkan oleh Allah SWT.  Seperti yang telah tertulis dalam salah satu hadist  "Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian salat dua rakaat (Salat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat" ( HR.Ahmad )

Pelaksanaan Shalat Hajat tidak mempunyai waktu-waktu tertentu seperti shalat wajib, Artinya Kita bisa melakukan shalat hajat sewaktu-waktu atau boleh dilakukan kapan saja dengan catatan tidak dilakukan pada waktu-waktu yang memang sudah dilarang dalam islam dan dilakukan antara 2 hingga 12 raka'at dengan salam di setiap 2 rakaat.

 Untuk Niat shalat hajat adalah  ;


اُصَلِّى سُنّـَةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ ِللهِ تَعَالى
Ushollii sunnatal haajati rok’aataini lillaahi ta’aala.
 (Aku Niat Sholat Sunah Hajat Karena Allah)


Sampai disini ulasan singkat Sekilastau Tentang Shalat Hajat. Semoga Bermanfaat.....

Niat dan Pelaksanaan Shalat Hajat

Powered by Blogger.

 
Sekilastau © 2015 - Designed by Templateism.com | Distributed By Blogger Templates